Berita & Informasi

Ekoteologi dan Pertanian Lestari, UIN Siber Cirebon Dorong Kembali Kearifan Pertanian Ramah Lingkungan

CIREBON – Upaya mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan terus didorong melalui gerakan ekoteologi. Program yang menjadi salah satu kebijakan prioritas Kementerian Agama melalui KMA Nomor 244 Tahun 2025 tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran umat bahwa menjaga alam bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan dan perwujudan iman.

Semangat tersebut turut dibahas dalam pengajian yang digelar Majelis Kebon Sufi Cirebon pada Kamis (28/5/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema pertanian ramah lingkungan dengan menghadirkan Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Abdul Aziz, dan praktisi pertanian purba, Deden Lesmana. Keduanya diketahui terlibat dalam penelitian bersama UIN Siber Cirebon yang mengembangkan konsep pertanian berkelanjutan dengan pendekatan ramah lingkungan dan berbasis nilai-nilai syariah.

Deden Lesmana mengatakan pengembangan pertanian tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah pemanfaatan sampah dan bahan organik sebagai sumber pupuk alami yang dapat dikembalikan ke tanah.

"Fokus kami mengembangkan pertanian tanpa pupuk kimia dan pestisida sintetis. Salah satu contohnya, kami pakai olahan sampah sebagai pupuk alami. Kami mengembalikan semangat pertanian lestari warisan leluhur, dengan pendekatan ramah lingkungan dan berbasis syariah," ujar Deden.

Menurutnya, pertanian tradisional yang diwariskan para leluhur memiliki banyak prinsip yang relevan untuk menjawab persoalan lingkungan saat ini. Pemanfaatan bahan-bahan alami, pengelolaan tanah secara berkelanjutan, serta pengurangan penggunaan bahan kimia menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menghasilkan pangan yang lebih sehat.

Konsep tersebut kemudian didorong untuk dikembangkan melalui kolaborasi antara UIN Siber Cirebon, Prof. Abdul Aziz, Deden Lesmana, dan Majelis Kebon Sufi. Kolaborasi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari pelatihan, pendampingan atau mentoring, hingga praktik langsung di lahan pertanian. Sejumlah jamaah Majelis Kebon Sufi yang memiliki lahan pertanian dinilai dapat menjadi bagian dari pengembangan model pertanian tersebut.

Selain menjadi ruang praktik, lahan milik jamaah juga berpotensi dikembangkan sebagai laboratorium masyarakat untuk menguji berbagai metode pertanian ramah lingkungan. Hasil dari praktik tersebut nantinya dapat menjadi bahan pembelajaran sekaligus dikembangkan menjadi model yang dapat diterapkan oleh masyarakat secara lebih luas.

Pembina Majelis Kebon Sufi, Habib Syech Muhammad Alcaff, mengatakan gagasan ekoteologi memiliki keterkaitan erat dengan visi Kebon Sufi dalam membangun kesadaran manusia yang tidak hanya memiliki kedalaman spiritual, tetapi juga tanggung jawab terhadap kehidupan dan lingkungan.

Menurutnya, manusia sebagai bagian dari alam memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Kesadaran tersebut perlu dibangun melalui pemikiran, pendidikan, dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana manusia memperoleh dan mengelola sumber pangan.

Ia menyinggung pesan Al-Qur'an dalam QS. 'Abasa ayat 24 yang mengingatkan manusia untuk memperhatikan makanannya. Ayat tersebut, menurutnya, dapat menjadi pijakan reflektif untuk melihat kembali bagaimana makanan diproduksi, dari mana sumbernya, serta bagaimana proses pertanian dilakukan tanpa merusak lingkungan.

"Kebon Sufi menyediakan asupan pemikiran atau gagasan yang melangit. Dan narasumber menghadirkan ide mengenai sumber makanan (pertanian) yang membumi, cerdas, serta humanis. Ini kolaborasi yang keren," ungkap Habib Syech Muhammad Alcaff, yang juga Ketua Pusat Studi Filsafat dan Pemikiran Islam ISIF.

Ia menilai pertemuan antara gagasan spiritual, filsafat, dan praktik pertanian tersebut dapat menjadi model kolaborasi yang menarik. Nilai-nilai keagamaan tidak berhenti pada tataran pemikiran, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang menyentuh kebutuhan dasar manusia sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Melalui kolaborasi tersebut, ekoteologi diharapkan tidak hanya menjadi wacana keagamaan, tetapi berkembang menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat. Pertanian ramah lingkungan dapat menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana nilai spiritual diterapkan dalam menjaga alam, menyediakan pangan yang sehat, serta membangun kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

Bagikan Artikel:
Info Prodi Assistant
👋 Halo! Saya asisten info Program Studi. Silakan tanya seputar:
• Informasi pendaftaran
• Kurikulum & mata kuliah
• Profil dosen
• Kegiatan & agenda
• Kontak prodi
Aksesibilitas